Tampilkan postingan dengan label Teori Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Diposting oleh Pernak Pernik Sejarah di 10.09 0 komentar
Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan para pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan.
Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi,pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Jadi, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Kualitas pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan analisa dari badanpendidikan dunia (UNESCO), kualitas para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang. Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Faktor-faktor tersebut yaitu :
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Dengan pendapatan yang rendah, terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya. Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) masih lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas. Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikanswasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen.
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya. Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen PendidikanNasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
6. Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Minggu, 22 September 2013

Teori Psikologi Pendidikan

Diposting oleh Pernak Pernik Sejarah di 12.01 0 komentar
1.        Lima perbedaan  antara teori Behavior dan teori Gestalt
Teori Behavior
Teori Gestalt
Menitikberatkan pada proses hubungan stimulus-respon-reinforcement sebagai bagian terpenting dalam belajar
Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai
Mengabaikan peranan insight
Berpandangan bahwa tingkah laku seseorang bergantung pada insight daripada trial dan error
Menekankan pada tingkah laku yang nampak (empiris) dengan mempergunakan metode obyektif
Lebih menekankan pada kognisi
Atomistik, Elemental, Molekular, objektif, Empiristik, Behavioral
Holistik, Molar, Subjektif, Nativistik, Kognitig, Fenomenologis
Mementingkan masa lalu sehingga belajar ditafsirkan sebagai perubahan perilaku
Lebih pada reorganisasi perseptual dalam memperoleh pemahaman.

2.        Tiga contoh teori primer thorndike
·         sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga.
·         Mengadakan tes bakat dengan tujuan mengetahuia bakat dari masing-masing peserta didik. Dengan mengetahui bakatnya, maka akan memudahkan mendidik sebab materi yang disampaikan akan disesuaikan dengan bakat peserta didik
·         sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
3.        Peran teori behavior
·         Memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.
·         Munculnya pembelajaran yang telah diprogramkan, suatu teknik dalam membimbing peserta didik kepada suatu taraf prestasi yang diinginkan.
4.        Contoh Classical Conditioning dari pavlov
·         Mata pelajaran sejarah (Conditioning Stimulus) + guru yang baik (Unconditional Stimulus) siswa mempunyai respon positif (Unconditional Respon), yang berarti siswa senang pada cara guru mengajar sejarah dengan baik. Kalau hal ini dilakukan berkali-kali, maka akan terjadi : mata pelajaran Sejarah (Conditioning Stimulus) siswa mempunyai respon positif terhadap mata pelajaran sejarah (Conditioning Respon).
·         Mata pelajaran sejarah (Conditioning Stimulus) + guru otoriter (Unconditional Stimulus) respons siswa negatif (Unconditional Respon). Kalau hal ini dilakukan berkalikali, maka akan terjadi hal sebagai berikut : mata pelajaran sejarah (Conditioning Stimulus) respons siswa terhadap mata pelajaran sejarah negatif (Conditioning Respon).

1.      Masalah dan kesulitan belajar di jurusan sejarah, yaitu:
·         Masih sulit menemukan cara pemahaman materi yang tepat karena masih sering terpaku pada metode menghafalkan materi yang ada
·         Sulit untuk menguasai materi yang ada karena luasnya ruang lingkup materi
  
Daftar Pustaka
·  Sudrajad, Akhmad. 2011. Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan: jurnal (online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/, diakses pada 4 Mei 2012)
·       Thohir, Muhammad. 2012. Ivan Pavlov: Classical Conditioning: jurnal (online), (http://thohir.sunan-ampel.ac.id/2012/04/23/ivan-pavlov-classical-conditioning/, diakses pada 4 Mei 2012)
· Sumarno, Alim. 2012. Behaviorisme - Teori Thorndike: jurnal (online), (http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/behaviorisme-teori-thondike, diakses pada 4 Mei 2012)
· Fadhilah, Nur Aziza. 2011. Teori Psikologi Gestalt: jurnal (online), (http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt/, diakses pada 4 Mei 2012)

Nama   : Al – Donna Zhara K

NIM    : 114284015

Psikologi Pendidikan

Diposting oleh Pernak Pernik Sejarah di 11.58 0 komentar
1.        Definisi Psikologi Pendidikan
a.    Menurut definisi para tokoh
·         Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut: penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaharuan kurikulum, ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan, sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif, serta  penyelenggaraan pendidikan keguruan
·         Menurut Muhibbin Syah,
Psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang terjadi dalam dunia pendidikan.
·         Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.
·         Tardif (Syah, 1997 / hal. 13)
   Definisi Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
·         Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13)
   Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being. Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
b.    Menurut saya, Psikologi pendidikan adalah suatu pengetahuan secara sistematis yang mempelajari tentang teori dan masalah dalam bidang pendidikan termasuk didalamnya teknologi pendidikan, perkembangan kurikulum, serta metode pembelajaran
2.    Semakin lama Ilmu Sejarah akan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu kontribusi psikologi pendidikan dalam perkembangan ilmu sejarah adalah dapat membatu manusia untuk menyesuaikan potensi dan motivasi serta minat yang dimiliki oleh individu (peserta didik) dengan perkembangan ilmu sejarah yang semakin luas agar dapat dicapainya perkembangan individu yang optimal.
3.        Dalam psikologi pendidikan terdapat beberapa metode yang dilakukan dalam suatu penelitian, termasuk metode observasi dan metode wawancara. Metode observasi adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, melalui proses penglihatan, sedangkan metode wawancara adalah proses komunikasi interaksional antara dua pihak yang digunakan untuk tujuan tertentu, misal konseling. Namun metode – metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.
Metode Observasi
Kelebihan
Kekurangan
pengamatan langsung atas perilaku, memungkinkan peneliti untuk merekam perilaku sebagaimana adanya
persepsi selektif. Orang cenderung memilih satu hal sebagai pusat pengamatan, sehingga hal lain luput dari pengamatan
peneliti memperoleh data dari tangan pertama
indra kurang bisa membuat perbandingan, karena indra cenderung menyesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu
informasi yang didapatkan lebih mendalam bila dibandingkan dengan metode penelitian lain
tugas observasi dapat terganggu pada waktu ada peristiwa yang tidak terduga, misalnya cuaca
lebih sedikit tuntunan bagi subyek yang diteliti
dibutuhkan pengatahuan yang lebih tentang persoalan pokok yang diamati dan pengalaman yang memadai
tidak tergantung pada self report karena observasi tidak tergantung pada kemauan objek yang diobservasi untuk melaporkan atau menceritakan pengalamannya
proses pengamatan dapat berpengaruh terhadap gejala-gejala yang diamati. Subyek memanipulasi diri dihadapan pengamat

Metode Wawancara
Kelebihan
Kekurangan
Dapat menangkap aspek non verbal dari responden saat menjawab
Responden mungkin sangat tertutup mengingat mereka harus memberikan informasi kepada orang asing
peneliti memperoleh data secara langsung dari responden
Peneliti harus memiliki bekal keahlian untuk melakukan wawancara
Pewawancara dapat secara luwes mengajukan pertanyaan sesuai dengan situasi yang dihadapi pada saat itu.
wawancara dengan individu satu persatu memerlukan banyak waktu dan tenaga dan juga mungkin biaya.
Jawaban tidak dibuat oleh orang lain tetapi benar oleh responden yang telah ditetapkan.
Responden dapat berhenti dalam menjawab pertanyaan serta meminta wawancara dihentikan, apabila dia merasa tidak nyaman dengan proses wawancara tersebut.
Melalui wawancara, dapat ditanyakan hal-hal yang rumit dan mendetail.
Walau dilakukan secara tatap muka, namun kesalahan bertanya dan kesalahan dalam menafsirkan jawaban, masih bisa terjadi.

4.        Tugas perkembangan kognitif pada remaja:
·         Secara intelektual remaja mulai dapat berfikir logis tentang suatu gagasan yang abstrak
·         Berfungsinya kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu membuat rencana, strategi, membuat keputusan-keputusan, serta memecahkan masalah
·         Sudah mampu menggunakan abstraksi-abstraksi, membedakan yang konkrit dengan yang abstrak
·         Munculnya kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis
·         Memikirkan masa depan dan perencanaan
·         Mulai menyadari proses berfikir efisien dan belajar berinstropeksi
·         Wawasan berfikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas, dan identitas (jati diri)
Tugas perkembangan pribadi pada remaja:
·         Pertumbuhan fisik semakin dewasa, membawa konsekuensi untuk berperilaku dewasa pula
·         Kematangan seksual berimplikasi kepada dorongan dan emosi-emosi baru
·         Munculnya kesadaran terhadap diri dan mengevaluasi kembali obsesi dan cita-citanya
·         Kebutuhan interaksi dan persahabatan lebih luas dengan teman sejenis dan lawan jenis
·         Munculnya konflik-konflik sebagai akibat masa transisi dari masa anak menuju dewasa. Remaja akhir sudah mulai dapat memahami, mengarahkan, mengembangkan, dan memelihara identitas diri
5.      Manfaat memahami tugas perkembangan kognitif dan tugas perkembangan kepribadian bagi saya sebagai calon guru sejarah adalah:
·         Perkembangan kognitif:
Kita dapat memahami bahwa motivasi berasal dari dalam diri individu (intrinsik) yang timbul berdasarkan pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik, dapat menjadi fasilitator terhadap pengelolaan kelas yang berpusat pada peserta didik, Mengefektifkan mengajar dengan cara mengutamakan program pendidikan yang berupa pengetahuan – pengetahuan terpadu secara hierarkis, serta dapat mengembangkan sisi kognitif secara optimal dan kemampuan menggunakan kecerdasan secara bijaksana.
·         Perkembangan kepribadian:
Merencanakan & mengorganisasikan prosedur pembelajaran dikelas dan bersifat fleksibel dalam merencanakan prosedur pembelajaran, menegakkan disiplin dengan cara yang positif, menunjukkan sikap memahami & simpati dalam bekerja dengan siswa, bersahabat dan ramah dalam bergaul dengan siswa, dan memberikan komentar dan penghargaan kepada siswa yang melakukan tugas dengan baik
6.        Persepsi adalah merupakan suatu proses pengamatan sensorik terhadap suatu objek yang menyangkut tanggapan mengenai kebenaran langsung, keyakinan terhadap objek tertentu. Persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterprestasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain. Melalui persepsi kita dapat mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu karena persepsi dapat terjadi kapan saja.
7.        Manfaat memahami persepsi sebagai guru adalah kita dapat mengetahui bagaimana peserta didik menerima, merasakan, menginterpretasikan, serta menilai tentang materi yang kita sampaikan. Tentu saja persepsi setiap peserta didik berbeda antar individu, hal ini di pengaruhi oleh perbedaan kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus. Apabila dalam sebuah kelas ada peserta didik yang lambat belajar, tentu kita akan memperlakukannya beda dengan peserta didik yang cepat tanggapterhadap materi yang disampaikan.
  
DAFTAR PUSTAKA

·            Sumarno, Alim. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi: e-learning (online), (http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-persepsi, diakses pada 23 April 2012)
·           Aminah. 2011. Metode Penelitian Psikologi Pendidikan: e-learning (online), (http://blog.elearning.unesa.ac.id/aminah/metode-penelitian-psikologi-pendidikan, diakses pada 23 April 2012)
·           Sumarno, Alim. 2011. Kelebihan Dan Kelemahan Metode Diskusi: e-learning (online), (http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/kelebihan-dan-kelemahan-metode-diskusi, diakses pada 23 April 2012)
·           Sumarno, Alim. 2011. Kelebihan Dan Kelemahan Metode Diskusi: e-learning (online), (http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/kelebihan-dan-kelemahan-metode-diskusi, diakses pada 23 April 2012)
·           Sudrajad, Akhmad. 2011. Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan: jurnal (online), (http://episentrum.com/artikel-psikologi/kontribusi-psikologi-terhadap-pendidikan/, diakses pada 23 April 2012)



Entri Populer

 

My colorful world (Al - Donna Zahra Khairani) Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review